Showing posts with label Kesehatan Gigi. Show all posts
Showing posts with label Kesehatan Gigi. Show all posts

Wednesday, December 26, 2012

Sifat Fisik Dental Wax

Posted by Devy Ratriana Amiati at 2:19 AM 0 comments
1. Temperatur peralihan solid
Wax memiliki temperatur yang cukup tinggi di atas 37 derajat celcius. Selama terjadinya perubahan dari satu laticce ke tipe laticce yang lain wax dapat dimanipulasi dengan baik tanpa adanya kerusakan pada tekanan yang berlebih selain itu digunakan untuk menentukan berbagai sifat-sifat dan keselarasannya untuk berbagai prosedur klinis di laboratorium.

2. Termal ekspansi dan kontraksi
Wax dan komponen-komponennya memiliki koefisien ekspansi terbesar diantara material-material lain yang digunakan di bidang kedokteran gigi. Wax akan memuai pada saat mengalami kenaikan temperatur dan mengalami kontraksi saat temperatur diturunkan.

3. Daya alir (flow)
Daya alir wax tidak diperlukan pada temperatur kamar dan mulut, karena akan menyebabka kerusakan pada wax. Namun pada saat pembentukan wax temperatur kamar sangat diperlukan untuk membengkokkan dan melipat wax saat manipulasi.

4. Tekanan interna
Wax memiliki sifat termal konduksi yang rendah sehingga sulit untuk mencapai panas yang seragam. Jika wax dibentuk atau diadaptasikan ke suatu bentuk tanpa panas yang cukup sampai temperatur peralihan ke solid, maka wax akan mengalami tekanan yang sangat kuat.

5. Sifat mudah pecah (Brittleness)
Pada beberapa dental wax, seperti inlay wax kekerasan sangatlah diperlukan agar inlay wax dapat dicarving beberapa kali sesuai dengan keinginan tanpa mengalami patah (Jamilah, 2009).
-->

1. Temperatur peralihan solid
Wax memiliki temperatur yang cukup tinggi di atas 37 derajat celcius. Selama terjadinya perubahan dari satu laticce ke tipe laticce yang lain wax dapat dimanipulasi dengan baik tanpa adanya kerusakan pada tekanan yang berlebih selain itu digunakan untuk menentukan berbagai sifat-sifat dan keselarasannya untuk berbagai prosedur klinis di laboratorium.

2. Termal ekspansi dan kontraksi
Wax dan komponen-komponennya memiliki koefisien ekspansi terbesar diantara material-material lain yang digunakan di bidang kedokteran gigi. Wax akan memuai pada saat mengalami kenaikan temperatur dan mengalami kontraksi saat temperatur diturunkan.

3. Daya alir (flow)
Daya alir wax tidak diperlukan pada temperatur kamar dan mulut, karena akan menyebabka kerusakan pada wax. Namun pada saat pembentukan wax temperatur kamar sangat diperlukan untuk membengkokkan dan melipat wax saat manipulasi.

4. Tekanan interna
Wax memiliki sifat termal konduksi yang rendah sehingga sulit untuk mencapai panas yang seragam. Jika wax dibentuk atau diadaptasikan ke suatu bentuk tanpa panas yang cukup sampai temperatur peralihan ke solid, maka wax akan mengalami tekanan yang sangat kuat.

5. Sifat mudah pecah (Brittleness)
Pada beberapa dental wax, seperti inlay wax kekerasan sangatlah diperlukan agar inlay wax dapat dicarving beberapa kali sesuai dengan keinginan tanpa mengalami patah (Jamilah, 2009).

Thursday, February 16, 2012

Sakit Gigi Tak Boleh Disepelekan

Posted by Devy Ratriana Amiati at 6:03 AM 0 comments


KOMPAS.com - Barangkali lebih baik sakit hati daripada sakit gigi. Bagaimana tidak, selain rasa nyeri yang menyengat, penyakit pada gigi juga bisa menjalar ke bagian tubuh lain.
Becky Tumewu (39), presenter, suatu kali bercerita tentang keponakannya yang masih duduk di kelas dua SD yang tiba-tiba pingsan di sekolah dan dilarikan ke rumah sakit. Ternyata diketahui kalau jantungnya dipenuhi cairan. "Setelah diselidiki, ternyata menurut dokter penyebabnya adalah lubang di gigi," katanya prihatin.

Hubungan bakteri dalam mulut dengan penyakit jantung akhir-akhir ini memang banyak diteliti, terutama berkaitan dengan bakteri enokarditis dan penyakit jantung koroner. Menurut sebuah penelitian, dari sejumlah kasus penyakit jantung , 54 persen pasien memiliki riwayat penyakit periodontal (gusi).

Mulut merupakan tempat ideal untuk perkembangan bakteri. Bila tak dibersihkan dengan sempurna maka racun dan bakteri bisa masuk ke peredaran darah. Selain penyakit jantung, infeksi pada gigi juga bisa membuat seseorang mengalami pegal-pegal di sekitar leher, radang otot, nyeri mata, bahkan gangguan ginjal.

Penyebaran penyakit dari gigi ke organ tubuh lain ini menurut dokter gigi Aditya Pribadi, Sp.Ort, terjadi lantaran fokal infeksi, yakni infeksi kronis di suatu tempat dan memicu penyakit di tempat lain. "Racun, sisa-sisa kotoran, atau mikroba penginfeksi pada gigi dan mulut bisa menyebar ke tempat lain," ujar dokter dari klinik Dharmawangsa Dental Care, Jakarta, ini.

Dampak penyebaran infeksi pada jantung dapat berupa penyakit jantung koroner, peradangan otot, serta katup jantung. Pada kulit, manifestasinya bisa berupa rasa gatal-gatal.

"Saya pernah punya pasien yang direfer dari dokter kulit. Pasien ini mengalami gatal-gatal di tangan dan kaki yang tak sembuh-sembuh. Setelah saya periksa ternyata dalam giginya ada lubang dan sisa-sisa akar yang masih tertinggal. Gusinya jadi infeksi," papar Aditya.

Sementara itu pada mata, bakteri pada gigi akan membuat mata cepat lelah dan nyeri pada bagian atas mata. Nyeri ini ditimbulkan oleh infeksi pada gigi karena ternyata kedua organ ini punya induk saraf yang sama.

Menurut Aditya, penyebaran infeksi ke gigi ke bagian tubuh lain memang membutuhkan proses yang panjang. "Memang agak sulit menentukan berapa lama proses penyebarannya," katanya. Penyebaran penyakit ini, lanjut Aditya, baru terjadi bila penyakitnya sudah mengenai saraf gigi dan infeksi.

Untuk mencegah kerusakan gigi dan komplikasi penyakit lain, perawatan gigi mutlak dilakukan. Selain membersihkan gigi minimal dua kali sehari, sesudah makan dan sebelum tidur, periksakan gigi ke dokter minimal enam bulan sekali.

"Sisa-sisa makanan yang menempel di gigi bisa menjadi plak. Bila tidak dibersihkan akan menjadi karang gigi. Nah, karang gigi ini merupakan tempat menumpuknya bakteri. Karena itu wajib dibersihkan enam bulan sekali," ujar Aditya.

Penyakit gigi dan gusi yang diakibatkan oleh plak dapat berupa gigi berlubang (karies) dan pembusukan jaringan sekitar gigi sehingga berakibat gigi mudah goyah dan tanggal. Karena itu, gosoklah gigi secara teratur untuk menghambat pembentukan plak.

Gigi Sehat Senyum Lebih Indah

Posted by Devy Ratriana Amiati at 5:48 AM 1 comments



Awal mula masuk di fakultas kedokteran gigi, dalam hati kecil terlintas rasa minder karena mempunyai sejarah kurang baik karena kecelakaan yang menyebabkan satu gigi depan saya separuh hilang. hingga akhirnya terpakasa dibuatkan gigi tiruan permanen dengan semen pembuat gigi. Selang beberapa bulan bersama teman-teman satu jurusan ternyata banyak yang bernasib sama seperti saya bahkan lebih parah. Ada yang memakai gigi tiruan lepas, bahkan teman satu jurusan namun beda universitas hampir semua gigi depannya habis. Dan disinilah letak tantangan dari kedokteran gigi, agar bagaimanapun keadaan gigi baik gigi asli maupun buatan kebersihan dan kesehatannya harus selalu dijaga agar senyum pun akan tetap indah.

Semoga salah satu copas ini bermanfaat ^_^

KOMPAS.com - Setiap orang tentu berharap punya gigi yang sehat. Tapi yang penting Anda diketahui, gigi sehat itu bukan sekedar yang putih dan bersih saja. Gigi sehat juga berarti tak ada karang gigi, tak berlubang, tertanam di gusi yang sehat dan tak mudah berdarah, serta berderet rapi di rahang yang kuat.
Kebanyakan orang menganggap senyum yang sempurna dengan gigi yang sehat membutuhkan perawatan yang mahal. Kalau kaitannya dengan koreksi estetika gigi, mungkin pendapat itu benar. Tetapi, mendapatkan gigi yang sehat cukup sebenarnya bisa dilakukan dengan perawatan rutin sehari-hari.

Sikat gigi
Gigi berlubang adalah salah satu masalah yang paling banyak dikeluhkan. Padahal masalah ini bisa dicegah dengan rajin menggosok gigi. Bersihkan gigi minimal dua kali sehari, terutama sebelum tidur. Hindari menyikat gigi langsung setelah makan.
Menurut Uchenna Okoye, dari Channel Four's 10 Years Younger, menyikat gigi setelah makan akan mengikis enamel gigi. "Zat asam dan gula dari makanan akan membuat enamel gigi jadi lemah," katanya.
Sikatlah gigi secara merata. Hindari menggosok gigi dengan tekanan berlebih karena gusi akan iritasi yang lama kelamaan membuat akar gigi terbuka dan leher gigi berlubang. Agar bakteri tidak mudah bersarang, gunakan dental floss setelah menyikat gigi.

Perhatikan makanan
Gigi yang sehat seharusnya berwarna putih. Meski tak harus seputih susu, namun sebaiknya tak ada noda yang mewarnai gigi. Karena itu, hindari makanan dan minuman yang bisa mengubah warna gigi, seperti rokok atau kopi. Penggunaan obat-obatan tertentu dan dalam waktu lama juga bisa mengubah warna gigi.
Bila Anda ingin memutihkan gigi, sebaiknya lakukan di klinik gigi. Berhati-hatilah menggunakan pemutih gigi yang dijual bebas di pasaran karena bahan-bahan pemutih yang terkandung bisa mengganggu kesehatan gigi.

Sumpah/Janji Dokter Gigi Indonesia

Posted by Devy Ratriana Amiati at 5:20 AM 0 comments



PP 33/1963, LAFAL SUMPAH/JANJI DOKTER GIGI Oleh:PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor:33 TAHUN 1963 (33/1963) Tanggal:22 MEI 1963 (JAKARTA)

Tentang:LAFAL SUMPAH/JANJI DOKTER GIGI
Presiden Republik Indonesia,
Menimbang : bahwa perlu menetapkan lafal sumpah/janji dokter gigi;
Mengingat :

1.pasal 5 ayat 2 Undang-undang Dasar;

2.pasal 10 ayat 3 Undang-undang No. 9 tahun 1960 tentang Pokok-pokok Kesehatan (Lembaran-Negara tahun 1960 No. 131);

Mendengar : Menteri Pertama, Wakil Menteri Pertama bidang Kesejahteraan Rakyat, Menteri Kesehatan dan Menteri Kehakiman;
Memutuskan : Menetapkan : Peraturan Pemerintah tentang Lafal Sumpah/Janji Dokter Gigi.


Pasal 1.
(1)Sebelum seorang dokter gigi melakukan jabatannya, maka ia harus mengucapkan sumpah menurut cara agama yang dipeluk nya, atau mengucapkan janji. Ucapan sumpah dimulai dengan kata-kata "Demi Allah" bagi mereka yang beragama Islam, dan sumpah bagi mereka yang beragama lain dari agama Islam, pemakaian kata-kata "Demi Allah" disesuaikan dengan kebiasaan agamanya masing-masing.

(2)Sumpah/janji itu berbunyi sebagai berikut :

1.Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan peri kemanusiaan, terutama dalam bidang kesehatan;

2.Saya akan menjalankan tugas saya dengan sebaik-baiknya sesuai dengan martabat dan tradisi luhur jabatan kedokteran gigi;

3.Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena pekerjaan saya dan keilmuaan saya sebagai dokter gigi;

4.Sekalipun diancam, saya tidak akan mempergunakan pengetahuan kedokteran gigi saya untuk sesuatu yang bertentangan denngan hukum perikemanusiaan;

5.Dalam menunaikan kewajiban saya, saya akan berikhtiar dengan sungguh-sungguh supaya tidak terpengaruh oleh pertimbangan Keagamaan, Kebangsaan, Kesukuan, Politik kepartaian atau Kedudukan Sosial;

6.Saya ikrarkan sumpah/janji ini dengan sungguh-sungguh *16306 dan dengan penuh keinsyafan.


Pasal 2.
Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada hari diundangkan. Agar supaya setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatan dalam Lembaran-Negara Republik Indonesia.

Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 22 Mei 1963

Presiden Republik Indonesia,
SUKARNO.


Diundangkan di Jakarta pada tanggal 22 Mei 1963

Sekretaris Negara,
MOHD. ICHSAN.

Friday, February 10, 2012

Jangan Malas Gosok Gigi

Posted by Devy Ratriana Amiati at 8:28 PM 0 comments
Mulut ibarat ruangan, gigi dan jaringan-jaringan yang ada di dalamnya ibarat perabotan. Ruangan bagus tidak menjamin kebersihan perabotan-perabotan di dalamnya. Usaha demi usaha harus kita lakukan agar tercipta keselaran dalam kebersihan dan keindahan antar keduanya.
Mencoba menganalisa, semoga bermanfaat ^_^

Tahu kah kita apa itu plak?
Yah.. Plak adalah lapisan tipis, bening tempat bakteri yang biasanya plak ini menempel pada gigi sesaat setelah kita mengkonsumsi makanan yang mengandung glukosa.
Plak inilah yang akan menyebabkan timbulnya karies (kerusakan gigi) serta gingivitis (radang gusi) bila kita tidak rutin menggosok gigi.

Plak biasanya terdapat pada gigi anak yang notabene suka makan makanan manis berglukosa tinggi (ex:coklat, permen, manisan, gulali, dll). sebagian orang dewasa cenderung tidak mendisiplinkan anaknya untuk menggosok gigi atau mungkin sudah menggosok gigi namun kurang bersih.
Perlu kita ketahui bersama plak yang bertemu dengan glukosa akan menimbulkan suatu asam, dimana asam tersebut akan dengan mudah melunakkan permukaan enamel gigi yang kemudian turun merusak dentin, lalu pulpa yang akhirnya membentuk cekungan hitam tempat sarang bakteri. Jika tidak diatasi dampak dari asam tersebut bisa sampai periodontal (gusi) yang dapat menyebabkan gusi membengkak, berdarah, dan gigi mudah tanggal.

Tanggalnya gigi yang tidak beraturan dapat menyebabkan gisul atau ada juga kasus dua gusi 1 gigi.

Hal inilah mengapa kebiasaan menggosok gigi tidak bisa diremehkan, terutama untuk anak yang akan menanggalkan gigi susu membentuk gigi permanen. Juga tidak kalah penting untuk orang dewasa, selama kita tetap memperhatikah dan menjaga kesehatan gigi maka gigi-gigi tersebut tetap kuat dan setia meski usia menua.

#So, tidak ada alasan untuk bermalas-malasan membersihkan gigi#

^_^

Gigi Ku Gigi Mu

Posted by Devy Ratriana Amiati at 8:27 PM 0 comments

Bagian-bagian gigi:

1. Bagian akar gigi yaitu bagian akar gigi yang tertanam di dalam tulang rahang, dan dilindungi oleh jaringan periodontal (gusi). Panjang akar kurang lebih 2/3 dari panjang seluruh gigi.

2. Mahkota Gigi yaitu bagian dari gigi yang dapat kita lihat tepatnya pada gigi bagian atas

3. Cusp yaitu tonjolan runcing atau tumpul yang terdapat pada mahkota gigi (Taring)


Jaringan-jaringan pada gigi:

1. Enamel (email) yaitu lapisan terluar dari mahkota yang sangat keras, yang melindungi gigi dari kerusakan.

2. Dentin yaitu jaringan seperti tulang yang terletak di bawah enamel, yang mempunyai fungsi meendukung enamel.

3. Cementum yaitu jaringan seperti tulang meliputi akar gigi. Yang membantu menghubunkan gigi dengan tulang rahang.

4. Pulpa yaitu jaringan lunak yang mengandung serat-serat, pembulu darah arteri, vena dan lympe yang letaknya di tengah-tengah gigi.

Sunday, January 8, 2012

5 kesalahan menyikat gigi

Posted by Devy Ratriana Amiati at 5:44 PM 0 comments




Mencoba membuka Kompas online, saya menemukan bacaan bagus yang sekiranya tidak ada salahnya jika kita mencoba membacanya dan mewaspadainya. karena akhir-akhir ini banyak sekali yang bertanya pada saya tentang masalah yang terjadi pada gigi mulai dari gigi berlubang, gigi sensitive, perawatan karies gigi, perawatan gusi berdarah dan lain sebagainya. Jika boleh jujur saya belum mendalami hal-hal itu secara jauh karena ilmu yang saya miliki masih sangat terbatas di semester 1 FKG ini. Insha Allah copas yang saya lakukan ini bermanfaat dalam mengambil sikap selancutnya bagaimana merawat gigi secara baik.
selamat membaca ^_^


KOMPAS.com - Menyikat gigi dua kali sehari sudah menjadi satu kegiatan yang Anda lakukan secara otomatis. Namun, apakah tindakan ini sudah cukup untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut? Coba periksa apakah sejauh ini Anda sudah melakukan ritual menggosok gigi dengan teknik yang benar. Menurut ahli, ada lima jenis kesalahan yang paling sering dilakukan saat menggosok gigi. Silakan baca untuk menemukan apakah Anda melakukan salah satu di antaranya.

1. Kurang lama menyikat gigi
Menurut para dokter gigi, kesalahan nomor satu yang paling sering dilakukan orang saat menggosok gigi adalah durasinya. "Agar dapat membersihkan gigi secara menyeluruh, Anda butuh waktu sekitar dua menit," kata drg Jacki Blatz dari Dentique Dental Hygiene Centre, Alberta. Bila Anda sering melakukannya kurang dari dua menit, risiko timbunan plak akan semakin besar.

Studi yang dilakukan oleh Newcastle University's School of Dental Science di Inggris memperlihatkan dua per tiga dari penderita gangguan gusi memiliki kebiasaan menggosok gigi kurang dari dua menit -bahkan setelah dokter giginya menganjurkan mereka untuk melakukan hal itu. Karenanya, cobalah mematuhi kebiasaan ini dengan menggosok gigi sambil melihat ke arah jam. 

2. Tidak membersihkan hingga ke sudut gigi
Idealnya, Anda perlu menggosok semua area gigi, mulai dari luar, dalam, hingga ke gusi, lidah, dan langit-langit mulut. Namun, seringkali Anda tidak membersihkan hingga ke dalam dan melupakan sudut-sudut tersembunyi karena memang sulit dijangkau. "Hal ini diakibatkan Anda menganggap kegiatan sikat gigi bukanlah kegiatan yang serius, sehingga yang dipikirkan hanya menggosok dan asal bersih," kata Blatz.
Sebaiknya, selalu beri perhatian penuh saat melakukannya, dengan mengingat bagian-bagian mana yang belum disikat. Dengan begitu, seluruh bagian gigi akan bersih sempurna.

3. Menyikat terlalu kuat
Gusi Anda kerap berdarah saat menyikat gigi? Mungkin saja ini bukan semata-mata salah sikat giginya, melainkan karena Anda menekannya terlalu kuat. Menurut Blatz, adalah keliru bila Anda menganggap bila sudah menyikat dengan kuat maka hasilnya akan semakin bersih. Yang jelas, gerakan seperti ini malah bisa melukai gusi. Bahkan, gigi Anda bisa menjadi sensitif karenanya. Jadi, untuk hasil yang lebih baik, pilih sikat gigi dengan bulu yang lembut dan bisa bergerak fleksibel di sela-sela gigi, ditambah dengan memperbaiki gerakan sikat gigi Anda.

4. Gerakan menyikat yang keliru
Jika Anda menggosok gigi hanya dengan gerakan menyamping dari gigi belakang ke depan, itu belum cukup. Sebab, menurut pakar gigi, hal ini belum dapat membersihkan seluruh bagian gigi. "Lebih baik berkonsentrasilah pada satu area kecil, lalu sikat dengan gerakan memutar. Setelah itu baru pindah ke area lainnya dan lakukan dengan gerakan yang sama. Sementara pada saat sampai di area dekat gusi, arahkan bulu sikat dengan kemiringan 45 derajat, lalu sikat ke arah luar gusi," anjur Blatz.

5. Memakai pasta gigi terlalu banyak
Sebenarnya, tidak masalah berapa banyak pasta gigi yang Anda pakai untuk sekali sikat gigi. Hanya saja, ini berarti Anda tidak akan dapat menyikat gigi cukup lama sesuai dengan waktu yang dianjurkan, karena mulut Anda akan penuh busa dan terasa tidak nyaman. Menurut  Blatz, sebenarnya yang banyaknya pasta gigi Anda butuhkan hanyalah sepanjang 1 cm.


Rajin gosok gigi setelah makan dan juga sebelum tidur, semoga bermanfaat ^_^

DHE (Dental Health Education)

Posted by Devy Ratriana Amiati at 5:31 PM 0 comments



Pendidikan adalah proses transformasi ilmu atau perubahan kemampuan potensial menjadi kemampuan nyata untuk meningkatkan taraf hidup lahir dan batin. Pendidikan kesehatan gigi sangat penting karena merupakan pendidikan untuk masyarakat secara luas terutama kesehatan gigi dan mulut dan merupakan proses pendidikan yang timbul atas dasar kebutuhan akan kesehatan gigi dan mulut.
Definisi Pendidikan kesehatan gigi (DHE) sendiri  adalah suatu proses belajar yang ditunjukan kepada individu dan kelompok masyarakat untuk mencapai derajat kesehatan gigi yang setinggi tingginya. Soemantri berpendapat bahwa pendidikan kesehatan gigi adalah suatu usaha atau aktifitas yang mempengaruhi orang sedemikian rupa sehingga baik untuk kesehatan pribadi ataupun masyarakat. Kesehatan gigi (DHE) sangat dianjurkan terutama untuk kalangan anak-anak yang masih dalam tahap pertumbuhan gigi.

B.   Tujuan Pendidikan Kesehatan Gigi
Pada dasarnya manusia mempunyai perilaku yang tidak sama, keseluruhan perilaku tersebut dipengaruhi oleh kebiasaan, lingkungan, serta pola asuh yang dibawa sejak kecil. Mengubah perilaku individu merupakan pekerjaan yang mudah, namun juga sulit karena dalam hal ini dibutuhkan keterampilan khusus, sebab perubahan tingkah laku individu selalu melibatkan perubahan mental yang dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan. Perubahan itu sendiri dapat terjadi secara alamiah yaitu karena lingkungan atau masyarakat sekitarnya. Namun, ada pula perubahan yang terjadi secara terencana dan dilaksanakan secara sistematis, yaitu yang dikenal sebagai perubahan melalui pendidikan.
Menurut Noor (1972), tujuan pendidikan kesehatan gigi:
1.      meningkatkan pengertian dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pemeliharan kesehatan gigi dan mulut.
2.     Menghilangkan atau paling sedikit mengurangi penyakit gigi dan mulut dan gangguan lainnya pada gigi dan mulut.

Maka dapat disimpulkan tujuan kesehatan gigi adalah memperkenalkan kepada masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut serta dapat menjadi acuan untuk menanamkan kebiasaan menjaga kesehatan gigi pada anak yang masih dalam usia dini. Proses pendidikan sendiri harus bertahap, dan harus dilakukan sepanjang hayat. Begitu juga dengan pendidikan kesehatan gigi harus dilakukan secara berkesinambungan, dan terus menerus. Yang menjadi sasaran utama pendidikan kesehatan gigi dan mulut ini adalah anak usia dini, karena masih dalam tahap perkembangan baik secara fisik, maupun psikis. Orang tua, masyarakat, serta sekolah diharapkan mampu menjadi motivator dalam kebiasaan ini karena merupakan tempat sosialisasi terdekat pada anak.
Dokter gigi harus pandai menggambil hati pasien terutama bila pasien yang ditangani adalah anak kecil. Vase anak yang masih menyukai permainan, gambar, nyanyian layaknya dimanfaatkan untuk melakukan pendekatan. Pendidikan cara menyikat gigi dengan menggunakan model dan dengan teknik biasanya dilakukan oleh Drg. Ratu Mirah Affifah GCClinDent., MDSc yang sering muncul sebagai bintang iklan disalah satu produk pasta gigi nasional serta kebiasan dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari tanpa adanya perasaan terpaksa. Pengajaran dapat dilakukan sesederhana mungkin dengan cara menarik dan atraktif tanpa mengurangi isi, misalnya demonstrasi secara langsung, program audio visual, atau melalui sikat gigi masal yang terkontrol.

Beberapa pendekatan yang dapat dilakukan sebagai berikut:

  • KONGNITIF: tentang pengetahuan, membicarakan proses, intelektual, yang diharapkan anak dapat mengingat, mengerti dan memecahkan permasalahan
  • AFEKTIF: Tentang sikap, membicarakan proses perasaan dan sikap seseorang untuk menerima hal yang baru
  • PSIKOMOTOR: Tentang keterampilan, membicarakan pengendalian     dan pergerakan otot-otot tubuh yang tepat.

3.     POLA PENYULUHAN KESEHATAN GIGI ANAK
Pola penyuluhan sangatlah penting karena dengan adanya pola penyuluhan, cara-cara yang dipakaipun akan lebih mengena karena disesuaikan dengan usia dan perkembangan pada anak. Berikut ini beberapa pola penyuluhan sesuai usia:

·        Usia ≤ 1,5 tahun>>>tergantung sepenuhnya pada orang tua
·        Usia 1,5 – 3 tahun>>>mulai dapat diajak kerja sama
·        Usia 3 - 6 tahun>>>berpedoman pada proses belajar dan bermain
·        Usia 8 – 10 tahun>>>dengan pendampingan
·        Usia 10 – 12 tahun>>>pengamatan anak cepat, pengertian, realitis dan kritis
·        Usia 12 – 14 tahun>>>anak memiliki emosi yang tinggi dan sering bersikap melawan.

4.     METODE PENYULUHAN
Proses perubahan tingkah laku menekankan pada pendidikan dengan mengguna pendekatan persuasif dan sugestif. Pendekatan persuasif dan sugestif dalam proses penyuluhan kesehatan  gigi merupakan salah satu alternatif untuk mencapai hasil yang memuaskan.

ü PENDEKATAN SUGESTIF
Pemberian penjelasan tidak secara logis, cenderung memberi penekanan dan arahan melalui perasaan dan emosi dengan cara membujuk orang lain secara langsung/tidak langsung dengan suatu ide atau kepercayaan yang meyakinkan. Penyuluhan secara sugestif relatif cepat, sangat berhasil pada masyarakat yang pendidikan dan ekonominya kurang baik

ü PENDEKATAN PERSUASIF
Gondhoyoewono (1991)
Dasar pendekatan persuasif adalah menunjukkan suatu fakta, menguraikan sebab akibat, menunjukkan konsekwensi suatu masalah, menjelaskan mengapa harus melakukan perubahan perilaku yang berkaitan dengan topik masalah dengan peninjauan dari berbagai segi pandang.

Selain melakukan pendekatan secara tatap muka (face to face), dengan ilustrasi, atau dengan miniatur, pendidikan kesehatan gigi juga dapat dilakukan dengan dimanfaatkan media seperti tv, komputer, radio, dll.
Showing posts with label Kesehatan Gigi. Show all posts
Showing posts with label Kesehatan Gigi. Show all posts

Wednesday, December 26, 2012

Sifat Fisik Dental Wax

1. Temperatur peralihan solid
Wax memiliki temperatur yang cukup tinggi di atas 37 derajat celcius. Selama terjadinya perubahan dari satu laticce ke tipe laticce yang lain wax dapat dimanipulasi dengan baik tanpa adanya kerusakan pada tekanan yang berlebih selain itu digunakan untuk menentukan berbagai sifat-sifat dan keselarasannya untuk berbagai prosedur klinis di laboratorium.

2. Termal ekspansi dan kontraksi
Wax dan komponen-komponennya memiliki koefisien ekspansi terbesar diantara material-material lain yang digunakan di bidang kedokteran gigi. Wax akan memuai pada saat mengalami kenaikan temperatur dan mengalami kontraksi saat temperatur diturunkan.

3. Daya alir (flow)
Daya alir wax tidak diperlukan pada temperatur kamar dan mulut, karena akan menyebabka kerusakan pada wax. Namun pada saat pembentukan wax temperatur kamar sangat diperlukan untuk membengkokkan dan melipat wax saat manipulasi.

4. Tekanan interna
Wax memiliki sifat termal konduksi yang rendah sehingga sulit untuk mencapai panas yang seragam. Jika wax dibentuk atau diadaptasikan ke suatu bentuk tanpa panas yang cukup sampai temperatur peralihan ke solid, maka wax akan mengalami tekanan yang sangat kuat.

5. Sifat mudah pecah (Brittleness)
Pada beberapa dental wax, seperti inlay wax kekerasan sangatlah diperlukan agar inlay wax dapat dicarving beberapa kali sesuai dengan keinginan tanpa mengalami patah (Jamilah, 2009).
-->

1. Temperatur peralihan solid
Wax memiliki temperatur yang cukup tinggi di atas 37 derajat celcius. Selama terjadinya perubahan dari satu laticce ke tipe laticce yang lain wax dapat dimanipulasi dengan baik tanpa adanya kerusakan pada tekanan yang berlebih selain itu digunakan untuk menentukan berbagai sifat-sifat dan keselarasannya untuk berbagai prosedur klinis di laboratorium.

2. Termal ekspansi dan kontraksi
Wax dan komponen-komponennya memiliki koefisien ekspansi terbesar diantara material-material lain yang digunakan di bidang kedokteran gigi. Wax akan memuai pada saat mengalami kenaikan temperatur dan mengalami kontraksi saat temperatur diturunkan.

3. Daya alir (flow)
Daya alir wax tidak diperlukan pada temperatur kamar dan mulut, karena akan menyebabka kerusakan pada wax. Namun pada saat pembentukan wax temperatur kamar sangat diperlukan untuk membengkokkan dan melipat wax saat manipulasi.

4. Tekanan interna
Wax memiliki sifat termal konduksi yang rendah sehingga sulit untuk mencapai panas yang seragam. Jika wax dibentuk atau diadaptasikan ke suatu bentuk tanpa panas yang cukup sampai temperatur peralihan ke solid, maka wax akan mengalami tekanan yang sangat kuat.

5. Sifat mudah pecah (Brittleness)
Pada beberapa dental wax, seperti inlay wax kekerasan sangatlah diperlukan agar inlay wax dapat dicarving beberapa kali sesuai dengan keinginan tanpa mengalami patah (Jamilah, 2009).

Thursday, February 16, 2012

Sakit Gigi Tak Boleh Disepelekan



KOMPAS.com - Barangkali lebih baik sakit hati daripada sakit gigi. Bagaimana tidak, selain rasa nyeri yang menyengat, penyakit pada gigi juga bisa menjalar ke bagian tubuh lain.
Becky Tumewu (39), presenter, suatu kali bercerita tentang keponakannya yang masih duduk di kelas dua SD yang tiba-tiba pingsan di sekolah dan dilarikan ke rumah sakit. Ternyata diketahui kalau jantungnya dipenuhi cairan. "Setelah diselidiki, ternyata menurut dokter penyebabnya adalah lubang di gigi," katanya prihatin.

Hubungan bakteri dalam mulut dengan penyakit jantung akhir-akhir ini memang banyak diteliti, terutama berkaitan dengan bakteri enokarditis dan penyakit jantung koroner. Menurut sebuah penelitian, dari sejumlah kasus penyakit jantung , 54 persen pasien memiliki riwayat penyakit periodontal (gusi).

Mulut merupakan tempat ideal untuk perkembangan bakteri. Bila tak dibersihkan dengan sempurna maka racun dan bakteri bisa masuk ke peredaran darah. Selain penyakit jantung, infeksi pada gigi juga bisa membuat seseorang mengalami pegal-pegal di sekitar leher, radang otot, nyeri mata, bahkan gangguan ginjal.

Penyebaran penyakit dari gigi ke organ tubuh lain ini menurut dokter gigi Aditya Pribadi, Sp.Ort, terjadi lantaran fokal infeksi, yakni infeksi kronis di suatu tempat dan memicu penyakit di tempat lain. "Racun, sisa-sisa kotoran, atau mikroba penginfeksi pada gigi dan mulut bisa menyebar ke tempat lain," ujar dokter dari klinik Dharmawangsa Dental Care, Jakarta, ini.

Dampak penyebaran infeksi pada jantung dapat berupa penyakit jantung koroner, peradangan otot, serta katup jantung. Pada kulit, manifestasinya bisa berupa rasa gatal-gatal.

"Saya pernah punya pasien yang direfer dari dokter kulit. Pasien ini mengalami gatal-gatal di tangan dan kaki yang tak sembuh-sembuh. Setelah saya periksa ternyata dalam giginya ada lubang dan sisa-sisa akar yang masih tertinggal. Gusinya jadi infeksi," papar Aditya.

Sementara itu pada mata, bakteri pada gigi akan membuat mata cepat lelah dan nyeri pada bagian atas mata. Nyeri ini ditimbulkan oleh infeksi pada gigi karena ternyata kedua organ ini punya induk saraf yang sama.

Menurut Aditya, penyebaran infeksi ke gigi ke bagian tubuh lain memang membutuhkan proses yang panjang. "Memang agak sulit menentukan berapa lama proses penyebarannya," katanya. Penyebaran penyakit ini, lanjut Aditya, baru terjadi bila penyakitnya sudah mengenai saraf gigi dan infeksi.

Untuk mencegah kerusakan gigi dan komplikasi penyakit lain, perawatan gigi mutlak dilakukan. Selain membersihkan gigi minimal dua kali sehari, sesudah makan dan sebelum tidur, periksakan gigi ke dokter minimal enam bulan sekali.

"Sisa-sisa makanan yang menempel di gigi bisa menjadi plak. Bila tidak dibersihkan akan menjadi karang gigi. Nah, karang gigi ini merupakan tempat menumpuknya bakteri. Karena itu wajib dibersihkan enam bulan sekali," ujar Aditya.

Penyakit gigi dan gusi yang diakibatkan oleh plak dapat berupa gigi berlubang (karies) dan pembusukan jaringan sekitar gigi sehingga berakibat gigi mudah goyah dan tanggal. Karena itu, gosoklah gigi secara teratur untuk menghambat pembentukan plak.

Gigi Sehat Senyum Lebih Indah




Awal mula masuk di fakultas kedokteran gigi, dalam hati kecil terlintas rasa minder karena mempunyai sejarah kurang baik karena kecelakaan yang menyebabkan satu gigi depan saya separuh hilang. hingga akhirnya terpakasa dibuatkan gigi tiruan permanen dengan semen pembuat gigi. Selang beberapa bulan bersama teman-teman satu jurusan ternyata banyak yang bernasib sama seperti saya bahkan lebih parah. Ada yang memakai gigi tiruan lepas, bahkan teman satu jurusan namun beda universitas hampir semua gigi depannya habis. Dan disinilah letak tantangan dari kedokteran gigi, agar bagaimanapun keadaan gigi baik gigi asli maupun buatan kebersihan dan kesehatannya harus selalu dijaga agar senyum pun akan tetap indah.

Semoga salah satu copas ini bermanfaat ^_^

KOMPAS.com - Setiap orang tentu berharap punya gigi yang sehat. Tapi yang penting Anda diketahui, gigi sehat itu bukan sekedar yang putih dan bersih saja. Gigi sehat juga berarti tak ada karang gigi, tak berlubang, tertanam di gusi yang sehat dan tak mudah berdarah, serta berderet rapi di rahang yang kuat.
Kebanyakan orang menganggap senyum yang sempurna dengan gigi yang sehat membutuhkan perawatan yang mahal. Kalau kaitannya dengan koreksi estetika gigi, mungkin pendapat itu benar. Tetapi, mendapatkan gigi yang sehat cukup sebenarnya bisa dilakukan dengan perawatan rutin sehari-hari.

Sikat gigi
Gigi berlubang adalah salah satu masalah yang paling banyak dikeluhkan. Padahal masalah ini bisa dicegah dengan rajin menggosok gigi. Bersihkan gigi minimal dua kali sehari, terutama sebelum tidur. Hindari menyikat gigi langsung setelah makan.
Menurut Uchenna Okoye, dari Channel Four's 10 Years Younger, menyikat gigi setelah makan akan mengikis enamel gigi. "Zat asam dan gula dari makanan akan membuat enamel gigi jadi lemah," katanya.
Sikatlah gigi secara merata. Hindari menggosok gigi dengan tekanan berlebih karena gusi akan iritasi yang lama kelamaan membuat akar gigi terbuka dan leher gigi berlubang. Agar bakteri tidak mudah bersarang, gunakan dental floss setelah menyikat gigi.

Perhatikan makanan
Gigi yang sehat seharusnya berwarna putih. Meski tak harus seputih susu, namun sebaiknya tak ada noda yang mewarnai gigi. Karena itu, hindari makanan dan minuman yang bisa mengubah warna gigi, seperti rokok atau kopi. Penggunaan obat-obatan tertentu dan dalam waktu lama juga bisa mengubah warna gigi.
Bila Anda ingin memutihkan gigi, sebaiknya lakukan di klinik gigi. Berhati-hatilah menggunakan pemutih gigi yang dijual bebas di pasaran karena bahan-bahan pemutih yang terkandung bisa mengganggu kesehatan gigi.

Sumpah/Janji Dokter Gigi Indonesia




PP 33/1963, LAFAL SUMPAH/JANJI DOKTER GIGI Oleh:PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor:33 TAHUN 1963 (33/1963) Tanggal:22 MEI 1963 (JAKARTA)

Tentang:LAFAL SUMPAH/JANJI DOKTER GIGI
Presiden Republik Indonesia,
Menimbang : bahwa perlu menetapkan lafal sumpah/janji dokter gigi;
Mengingat :

1.pasal 5 ayat 2 Undang-undang Dasar;

2.pasal 10 ayat 3 Undang-undang No. 9 tahun 1960 tentang Pokok-pokok Kesehatan (Lembaran-Negara tahun 1960 No. 131);

Mendengar : Menteri Pertama, Wakil Menteri Pertama bidang Kesejahteraan Rakyat, Menteri Kesehatan dan Menteri Kehakiman;
Memutuskan : Menetapkan : Peraturan Pemerintah tentang Lafal Sumpah/Janji Dokter Gigi.


Pasal 1.
(1)Sebelum seorang dokter gigi melakukan jabatannya, maka ia harus mengucapkan sumpah menurut cara agama yang dipeluk nya, atau mengucapkan janji. Ucapan sumpah dimulai dengan kata-kata "Demi Allah" bagi mereka yang beragama Islam, dan sumpah bagi mereka yang beragama lain dari agama Islam, pemakaian kata-kata "Demi Allah" disesuaikan dengan kebiasaan agamanya masing-masing.

(2)Sumpah/janji itu berbunyi sebagai berikut :

1.Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan peri kemanusiaan, terutama dalam bidang kesehatan;

2.Saya akan menjalankan tugas saya dengan sebaik-baiknya sesuai dengan martabat dan tradisi luhur jabatan kedokteran gigi;

3.Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena pekerjaan saya dan keilmuaan saya sebagai dokter gigi;

4.Sekalipun diancam, saya tidak akan mempergunakan pengetahuan kedokteran gigi saya untuk sesuatu yang bertentangan denngan hukum perikemanusiaan;

5.Dalam menunaikan kewajiban saya, saya akan berikhtiar dengan sungguh-sungguh supaya tidak terpengaruh oleh pertimbangan Keagamaan, Kebangsaan, Kesukuan, Politik kepartaian atau Kedudukan Sosial;

6.Saya ikrarkan sumpah/janji ini dengan sungguh-sungguh *16306 dan dengan penuh keinsyafan.


Pasal 2.
Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada hari diundangkan. Agar supaya setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatan dalam Lembaran-Negara Republik Indonesia.

Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 22 Mei 1963

Presiden Republik Indonesia,
SUKARNO.


Diundangkan di Jakarta pada tanggal 22 Mei 1963

Sekretaris Negara,
MOHD. ICHSAN.

Friday, February 10, 2012

Jangan Malas Gosok Gigi

Mulut ibarat ruangan, gigi dan jaringan-jaringan yang ada di dalamnya ibarat perabotan. Ruangan bagus tidak menjamin kebersihan perabotan-perabotan di dalamnya. Usaha demi usaha harus kita lakukan agar tercipta keselaran dalam kebersihan dan keindahan antar keduanya.
Mencoba menganalisa, semoga bermanfaat ^_^

Tahu kah kita apa itu plak?
Yah.. Plak adalah lapisan tipis, bening tempat bakteri yang biasanya plak ini menempel pada gigi sesaat setelah kita mengkonsumsi makanan yang mengandung glukosa.
Plak inilah yang akan menyebabkan timbulnya karies (kerusakan gigi) serta gingivitis (radang gusi) bila kita tidak rutin menggosok gigi.

Plak biasanya terdapat pada gigi anak yang notabene suka makan makanan manis berglukosa tinggi (ex:coklat, permen, manisan, gulali, dll). sebagian orang dewasa cenderung tidak mendisiplinkan anaknya untuk menggosok gigi atau mungkin sudah menggosok gigi namun kurang bersih.
Perlu kita ketahui bersama plak yang bertemu dengan glukosa akan menimbulkan suatu asam, dimana asam tersebut akan dengan mudah melunakkan permukaan enamel gigi yang kemudian turun merusak dentin, lalu pulpa yang akhirnya membentuk cekungan hitam tempat sarang bakteri. Jika tidak diatasi dampak dari asam tersebut bisa sampai periodontal (gusi) yang dapat menyebabkan gusi membengkak, berdarah, dan gigi mudah tanggal.

Tanggalnya gigi yang tidak beraturan dapat menyebabkan gisul atau ada juga kasus dua gusi 1 gigi.

Hal inilah mengapa kebiasaan menggosok gigi tidak bisa diremehkan, terutama untuk anak yang akan menanggalkan gigi susu membentuk gigi permanen. Juga tidak kalah penting untuk orang dewasa, selama kita tetap memperhatikah dan menjaga kesehatan gigi maka gigi-gigi tersebut tetap kuat dan setia meski usia menua.

#So, tidak ada alasan untuk bermalas-malasan membersihkan gigi#

^_^

Gigi Ku Gigi Mu


Bagian-bagian gigi:

1. Bagian akar gigi yaitu bagian akar gigi yang tertanam di dalam tulang rahang, dan dilindungi oleh jaringan periodontal (gusi). Panjang akar kurang lebih 2/3 dari panjang seluruh gigi.

2. Mahkota Gigi yaitu bagian dari gigi yang dapat kita lihat tepatnya pada gigi bagian atas

3. Cusp yaitu tonjolan runcing atau tumpul yang terdapat pada mahkota gigi (Taring)


Jaringan-jaringan pada gigi:

1. Enamel (email) yaitu lapisan terluar dari mahkota yang sangat keras, yang melindungi gigi dari kerusakan.

2. Dentin yaitu jaringan seperti tulang yang terletak di bawah enamel, yang mempunyai fungsi meendukung enamel.

3. Cementum yaitu jaringan seperti tulang meliputi akar gigi. Yang membantu menghubunkan gigi dengan tulang rahang.

4. Pulpa yaitu jaringan lunak yang mengandung serat-serat, pembulu darah arteri, vena dan lympe yang letaknya di tengah-tengah gigi.

Sunday, January 8, 2012

5 kesalahan menyikat gigi





Mencoba membuka Kompas online, saya menemukan bacaan bagus yang sekiranya tidak ada salahnya jika kita mencoba membacanya dan mewaspadainya. karena akhir-akhir ini banyak sekali yang bertanya pada saya tentang masalah yang terjadi pada gigi mulai dari gigi berlubang, gigi sensitive, perawatan karies gigi, perawatan gusi berdarah dan lain sebagainya. Jika boleh jujur saya belum mendalami hal-hal itu secara jauh karena ilmu yang saya miliki masih sangat terbatas di semester 1 FKG ini. Insha Allah copas yang saya lakukan ini bermanfaat dalam mengambil sikap selancutnya bagaimana merawat gigi secara baik.
selamat membaca ^_^


KOMPAS.com - Menyikat gigi dua kali sehari sudah menjadi satu kegiatan yang Anda lakukan secara otomatis. Namun, apakah tindakan ini sudah cukup untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut? Coba periksa apakah sejauh ini Anda sudah melakukan ritual menggosok gigi dengan teknik yang benar. Menurut ahli, ada lima jenis kesalahan yang paling sering dilakukan saat menggosok gigi. Silakan baca untuk menemukan apakah Anda melakukan salah satu di antaranya.

1. Kurang lama menyikat gigi
Menurut para dokter gigi, kesalahan nomor satu yang paling sering dilakukan orang saat menggosok gigi adalah durasinya. "Agar dapat membersihkan gigi secara menyeluruh, Anda butuh waktu sekitar dua menit," kata drg Jacki Blatz dari Dentique Dental Hygiene Centre, Alberta. Bila Anda sering melakukannya kurang dari dua menit, risiko timbunan plak akan semakin besar.

Studi yang dilakukan oleh Newcastle University's School of Dental Science di Inggris memperlihatkan dua per tiga dari penderita gangguan gusi memiliki kebiasaan menggosok gigi kurang dari dua menit -bahkan setelah dokter giginya menganjurkan mereka untuk melakukan hal itu. Karenanya, cobalah mematuhi kebiasaan ini dengan menggosok gigi sambil melihat ke arah jam. 

2. Tidak membersihkan hingga ke sudut gigi
Idealnya, Anda perlu menggosok semua area gigi, mulai dari luar, dalam, hingga ke gusi, lidah, dan langit-langit mulut. Namun, seringkali Anda tidak membersihkan hingga ke dalam dan melupakan sudut-sudut tersembunyi karena memang sulit dijangkau. "Hal ini diakibatkan Anda menganggap kegiatan sikat gigi bukanlah kegiatan yang serius, sehingga yang dipikirkan hanya menggosok dan asal bersih," kata Blatz.
Sebaiknya, selalu beri perhatian penuh saat melakukannya, dengan mengingat bagian-bagian mana yang belum disikat. Dengan begitu, seluruh bagian gigi akan bersih sempurna.

3. Menyikat terlalu kuat
Gusi Anda kerap berdarah saat menyikat gigi? Mungkin saja ini bukan semata-mata salah sikat giginya, melainkan karena Anda menekannya terlalu kuat. Menurut Blatz, adalah keliru bila Anda menganggap bila sudah menyikat dengan kuat maka hasilnya akan semakin bersih. Yang jelas, gerakan seperti ini malah bisa melukai gusi. Bahkan, gigi Anda bisa menjadi sensitif karenanya. Jadi, untuk hasil yang lebih baik, pilih sikat gigi dengan bulu yang lembut dan bisa bergerak fleksibel di sela-sela gigi, ditambah dengan memperbaiki gerakan sikat gigi Anda.

4. Gerakan menyikat yang keliru
Jika Anda menggosok gigi hanya dengan gerakan menyamping dari gigi belakang ke depan, itu belum cukup. Sebab, menurut pakar gigi, hal ini belum dapat membersihkan seluruh bagian gigi. "Lebih baik berkonsentrasilah pada satu area kecil, lalu sikat dengan gerakan memutar. Setelah itu baru pindah ke area lainnya dan lakukan dengan gerakan yang sama. Sementara pada saat sampai di area dekat gusi, arahkan bulu sikat dengan kemiringan 45 derajat, lalu sikat ke arah luar gusi," anjur Blatz.

5. Memakai pasta gigi terlalu banyak
Sebenarnya, tidak masalah berapa banyak pasta gigi yang Anda pakai untuk sekali sikat gigi. Hanya saja, ini berarti Anda tidak akan dapat menyikat gigi cukup lama sesuai dengan waktu yang dianjurkan, karena mulut Anda akan penuh busa dan terasa tidak nyaman. Menurut  Blatz, sebenarnya yang banyaknya pasta gigi Anda butuhkan hanyalah sepanjang 1 cm.


Rajin gosok gigi setelah makan dan juga sebelum tidur, semoga bermanfaat ^_^

DHE (Dental Health Education)




Pendidikan adalah proses transformasi ilmu atau perubahan kemampuan potensial menjadi kemampuan nyata untuk meningkatkan taraf hidup lahir dan batin. Pendidikan kesehatan gigi sangat penting karena merupakan pendidikan untuk masyarakat secara luas terutama kesehatan gigi dan mulut dan merupakan proses pendidikan yang timbul atas dasar kebutuhan akan kesehatan gigi dan mulut.
Definisi Pendidikan kesehatan gigi (DHE) sendiri  adalah suatu proses belajar yang ditunjukan kepada individu dan kelompok masyarakat untuk mencapai derajat kesehatan gigi yang setinggi tingginya. Soemantri berpendapat bahwa pendidikan kesehatan gigi adalah suatu usaha atau aktifitas yang mempengaruhi orang sedemikian rupa sehingga baik untuk kesehatan pribadi ataupun masyarakat. Kesehatan gigi (DHE) sangat dianjurkan terutama untuk kalangan anak-anak yang masih dalam tahap pertumbuhan gigi.

B.   Tujuan Pendidikan Kesehatan Gigi
Pada dasarnya manusia mempunyai perilaku yang tidak sama, keseluruhan perilaku tersebut dipengaruhi oleh kebiasaan, lingkungan, serta pola asuh yang dibawa sejak kecil. Mengubah perilaku individu merupakan pekerjaan yang mudah, namun juga sulit karena dalam hal ini dibutuhkan keterampilan khusus, sebab perubahan tingkah laku individu selalu melibatkan perubahan mental yang dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan. Perubahan itu sendiri dapat terjadi secara alamiah yaitu karena lingkungan atau masyarakat sekitarnya. Namun, ada pula perubahan yang terjadi secara terencana dan dilaksanakan secara sistematis, yaitu yang dikenal sebagai perubahan melalui pendidikan.
Menurut Noor (1972), tujuan pendidikan kesehatan gigi:
1.      meningkatkan pengertian dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pemeliharan kesehatan gigi dan mulut.
2.     Menghilangkan atau paling sedikit mengurangi penyakit gigi dan mulut dan gangguan lainnya pada gigi dan mulut.

Maka dapat disimpulkan tujuan kesehatan gigi adalah memperkenalkan kepada masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut serta dapat menjadi acuan untuk menanamkan kebiasaan menjaga kesehatan gigi pada anak yang masih dalam usia dini. Proses pendidikan sendiri harus bertahap, dan harus dilakukan sepanjang hayat. Begitu juga dengan pendidikan kesehatan gigi harus dilakukan secara berkesinambungan, dan terus menerus. Yang menjadi sasaran utama pendidikan kesehatan gigi dan mulut ini adalah anak usia dini, karena masih dalam tahap perkembangan baik secara fisik, maupun psikis. Orang tua, masyarakat, serta sekolah diharapkan mampu menjadi motivator dalam kebiasaan ini karena merupakan tempat sosialisasi terdekat pada anak.
Dokter gigi harus pandai menggambil hati pasien terutama bila pasien yang ditangani adalah anak kecil. Vase anak yang masih menyukai permainan, gambar, nyanyian layaknya dimanfaatkan untuk melakukan pendekatan. Pendidikan cara menyikat gigi dengan menggunakan model dan dengan teknik biasanya dilakukan oleh Drg. Ratu Mirah Affifah GCClinDent., MDSc yang sering muncul sebagai bintang iklan disalah satu produk pasta gigi nasional serta kebiasan dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari tanpa adanya perasaan terpaksa. Pengajaran dapat dilakukan sesederhana mungkin dengan cara menarik dan atraktif tanpa mengurangi isi, misalnya demonstrasi secara langsung, program audio visual, atau melalui sikat gigi masal yang terkontrol.

Beberapa pendekatan yang dapat dilakukan sebagai berikut:

  • KONGNITIF: tentang pengetahuan, membicarakan proses, intelektual, yang diharapkan anak dapat mengingat, mengerti dan memecahkan permasalahan
  • AFEKTIF: Tentang sikap, membicarakan proses perasaan dan sikap seseorang untuk menerima hal yang baru
  • PSIKOMOTOR: Tentang keterampilan, membicarakan pengendalian     dan pergerakan otot-otot tubuh yang tepat.

3.     POLA PENYULUHAN KESEHATAN GIGI ANAK
Pola penyuluhan sangatlah penting karena dengan adanya pola penyuluhan, cara-cara yang dipakaipun akan lebih mengena karena disesuaikan dengan usia dan perkembangan pada anak. Berikut ini beberapa pola penyuluhan sesuai usia:

·        Usia ≤ 1,5 tahun>>>tergantung sepenuhnya pada orang tua
·        Usia 1,5 – 3 tahun>>>mulai dapat diajak kerja sama
·        Usia 3 - 6 tahun>>>berpedoman pada proses belajar dan bermain
·        Usia 8 – 10 tahun>>>dengan pendampingan
·        Usia 10 – 12 tahun>>>pengamatan anak cepat, pengertian, realitis dan kritis
·        Usia 12 – 14 tahun>>>anak memiliki emosi yang tinggi dan sering bersikap melawan.

4.     METODE PENYULUHAN
Proses perubahan tingkah laku menekankan pada pendidikan dengan mengguna pendekatan persuasif dan sugestif. Pendekatan persuasif dan sugestif dalam proses penyuluhan kesehatan  gigi merupakan salah satu alternatif untuk mencapai hasil yang memuaskan.

ü PENDEKATAN SUGESTIF
Pemberian penjelasan tidak secara logis, cenderung memberi penekanan dan arahan melalui perasaan dan emosi dengan cara membujuk orang lain secara langsung/tidak langsung dengan suatu ide atau kepercayaan yang meyakinkan. Penyuluhan secara sugestif relatif cepat, sangat berhasil pada masyarakat yang pendidikan dan ekonominya kurang baik

ü PENDEKATAN PERSUASIF
Gondhoyoewono (1991)
Dasar pendekatan persuasif adalah menunjukkan suatu fakta, menguraikan sebab akibat, menunjukkan konsekwensi suatu masalah, menjelaskan mengapa harus melakukan perubahan perilaku yang berkaitan dengan topik masalah dengan peninjauan dari berbagai segi pandang.

Selain melakukan pendekatan secara tatap muka (face to face), dengan ilustrasi, atau dengan miniatur, pendidikan kesehatan gigi juga dapat dilakukan dengan dimanfaatkan media seperti tv, komputer, radio, dll.
 

Rainbow Story Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea